Sejarah Reog Ponorogo :Reog Ponorogo Web

Sejarah Reog Ponorogo

Diposkan oleh amron rosyidi on Sabtu, 09 Februari 2013


Sejarah Reog Ponorogo


            .
Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog ponorogo dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan masa itu.
 Raja  majapahit yang berkuasa pada abad ke-15.  Ki ageng kutu marah akan pengaruh kuat dari pihak istri raja majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan majapahit akan berakhir.
 Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali.
 Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal Singo Barong itu adalah raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
 Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari  yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya 
. Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya raja mengambil tindakKertabumi an dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh para warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran tentang ilmu warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.
 Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan wengker Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan wengker, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

Saat ini masyarakat ponorogo, melestarikannya tari reog ponorogo tersebut dalam suatu pentas, yang setiap tahun di alon-alon ponorogo, tepatnya setiap bulan purnama dan tanggal 1 syura.

Bahkan di sekolah- sekolah pelajaran kesenian reog adalah masuk dalam pelajaran muatan lokal bagi sekolah-sekolah di kabupaten ponorogo. 

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar